makalah islam untuk disiplin ilmu

Posted: 21/10/2010 in education

PENDAHULUAN

Islam adalah agama yang telah disempurnakan oleh Allah SWT diturunkan kepada nabi Muhammad saw untuk disebarkan kepada seluruh umat manusia. Islam suatu agama yang mencakup semua aspek kehidupan manusia dan alam semesta, baik dalam ekonomi, pembangunan dsb. Segala aturan-aturan mengenai kehidupan manusia khususnya ekonomi islam telah tercantum dalam Al-Quran dan hadist.

Ekonomi islam dibangun atas dasar prinsip-prinsip, nilai, norma, dan etika islam. Karena itu, ekonomi tak terpisahkan (integral) sebagai derivasi dari islam pasti akan mengikuti aturan-aturan dalam berbagi aspeknya. Beberapa aturan bersifat permanen dan sebagian bersifat kontekstual sesuai situasi dan kondisi.

ekonomi Islam sebagai suatu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan yang tidak ada habisnya atau tidak terbatas dengan alat pemenuhan kebutuhan yang terbatas di dalam kerangka Syariah.

SEJARAH EKONOMI ISLAM

Ekonomi islam pada hakikatnya bukan sebuah ilmu dari sikap reaksioner terhadap fenomena ekonomi konvensional.  Awal keberadaannya sama dengan awal keberadaan islam dimuka bumi ini sekitar 1500 tahun yang lalu. Karena ekonomi islam merupakan bagian yang tak terpisahkan dari islam sebagai system hidup. Islam yang diyakini sebagai jalan atau konsep hidup tentu melingkupi ekonomi sebagai slah satu aktivitas hidup manusia. Jadi, dapat dikatakan bahwa ekonomi islam merupakan aktivitas keagamaan atau ibadah.

PEMBAHASAN

Beberapa ahli mendefinisikan ekonomi Islam sebagai suatu ilmu yang mempelajari perilaku manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan dengan alat pemenuhan kebutuhan yang terbatas di dalam kerangka Syariah. Definisi lain merumuskan bahwa ekonomi Islam adalah ilmu yang mempelajari perilaku seorang muslim dalam suatu masyarakat Islam yang dibingkai dengan syariah. Definisi yang lebih lengkap musti mengakomodasikan sejumlah prasyarat yaitu karakteristik dari pandangan hidup Islam. Syarat utama adalah memasukkan nilai-nilai syariah dalam ilmu ekonomi. Ilmu ekonomi Islam adalah ilmu sosial yang tentu saja tidak bebas dari nilai-nilai moral. Nilai-nilai moral merupakan aspek normatif yang harus dimasukkan dalam analisis fenomena ekonomi serta dalam pengambilan keputusan yang dibingkai syariah.

Nilai-nilai System Ekonomi Islam

1.    Perekoniman islam akan menjadi baik apabila menggunakan kerangka kerja atau norma-norma islam.

Dalam hal ini telah dijelaskan bahwa Allah memerintahkan kepada umat manusia agar makan dan minum yang halal yang telah diberikan oleh Allah dan janganlah berbuat kerusakan dimuka bumi. Serta berjuang untuk melakukan sesuatu dengan cara benar mengikuti rambu-rambu yang telah ditetapkan.

2.    Keadilan dan persaudaraan manyeluruh.

Keadilan social dalam arti umat manusia memiliki derajat yang sama di hadapan Allah SWT,tidak ada yang di beda-bedakan manusia dengan sesamanya.

Begitupun dengan keadilan ekonomi setiap individu berhak mendapatkan hak nya berdasarkan kontribusi masing-masing pada masyarakat,seriap individu harus terbebas dari ekploitasi individu lainnya tidak saling merugikan

3.    Keadilan distribusi pendapatan, semangat persaudaraan dalam social ekonomi melawan kesenjangan pendapatan.

Islam membenarkan seseorang memiliki kekayan yang lebih dari yang lain selagi kekayaan tersebut diperoleh dengan cara yang  benar dan yang bersangkutan telah menunaikan kewajibannya terhadap kesejahtraan masyarakat baik berupa zkat,sedekah dll,disertai sikap yang tawadhu tidak pamer.

4.   Kebebasan individu dalam konteks kesejahtraan social:

kketaatan kepada Allah SWT,harus mampu melepaskan diri segala bentuk perbudakan sesama manusia.

Tidak ada yang berhak mencabuat kemerdekaan seseorang yang merupakan fitrah bagi manusia dan berhak menggunakan kebebasan tersebut sepanjang hidupnya selagi dalam kerangka norma-norma islam atau dapat dipertanggungjawaban baik secara social maupun kepada Allah SWT. Kebebasan individu harus berpegang pada prinsip-prinsip sehingga tidak merudikan orang lain atau masyarakat umum.

Mekanisme Sistem Ekonomi Islam

Secara umum mekanisme yang ditempuh oleh sistem ekonomi Islam dikelompokkan menjadi dua, iaitu:-

1.Mekanisme Ekonomi

Mekanisme ekonomi adalah mekanisme melalui aktiviti ekonomi yang bersifat produktif, berupa berbagai kegiatan pengembangan harta (tanmiyatul mal) dalam akad-akad muamalah dan sebab-sebab kepemilikan (asbab at-tamalluk). Berbagai cara dalam mekanisme ekonomi ini, antara lain :

▪   Membuka kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya sebab-sebab kepemilikan dalam kepemilikan individu (misalnya, bekerja di sektor pertanian, industri, dan perdagangan)

▪   Memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi berlangsungnya pengembangan harta (tanmiyah mal) melalui kegiatan investasi (misalnya, dengan syirkah inan, mudharabah, dan sebagainya).

▪   Larangan menimbun harta benda (wang, emas, dan perak) walaupun telah dikeluarkan zakatnya. Harta yang ditimbun tidak akan berfungsi pada ekonomi. Pada gilirannya akan menghambat peredaran kerana tidak terjadi perputaran harta.

▪   Mengatasi peredaran dan pemusatan kekayaan di satu daerah tertentu saja misalnya dengan memeratakan peredaran modal dan mendorong tersebarnya pusat-pusat pertumbuhan.

▪   Larangan kegiatan monopoli, serta berbagai penipuan yang dapat menjamin pasaran.

▪   Larangan judi, riba, rasuah, pemberian barang dan hadiah kepada penguasa. Semua ini akan mengumpulkan kekayaan pada pihak yang kuat semata (seperti penguasa atau koperat).

▪   Memberikan kepada rakyat hak pemanfaatan barang-barang milik umum (al- milkiyah al-amah) yang dikelola negara seperti hasil hutan, barang galian, minyak, elektrik, air dan sebagainya demi kesejahteraan rakyat.

2.Mekanisme Non-Ekonomi

Mekanisme non-ekonomi adalah mekanisme yang tidak melalui aktiviti ekonomi yang produktif, melainkan melalui aktiviti non-produktif, misalnya pemberian (hibah, sedekah, zakat, dll) atau warisan. Mekanisme non-ekonomi dimaksudkan untuk melengkapi mekanisme ekonomi. Iaitu untuk mengatasi peredaran kekayaan yang tidak berjalan sempurna jika hanya mengandalkan mekanisme ekonomi semata.

Mekanisme non-ekonomi diperlukan baik kerana adanya sebab-sebab alamiah maupun non-alamiah. Sebab alamiah misalnya keadaan alam yang tandus, badan yang cacat, akal yang lemah atau terjadinya musibah bencana alam. Semua ini akan dapat menimbulkan terjadinya gangguan ekonomi dan terhambatnya edaran kekayaan kepada orang-orang yang memiliki keadaan tersebut. Dengan mekanisme ekonomi biasa, edaran kekayaan boleh tidak berjalan kerana orang-orang yang memiliki hambatan yang bersifat alamiah tadi tidak dapat mengikuti kegiatan ekonomi secara normal sebagaimana orang lain. Bila dibiarkan saja, orang-orang itu, termasuk mereka yang tertimpa musibah (kecelakaan, bencana alam dan sebagainya) makin terpinggirkan secara ekonomi. Mereka akan menjadi masyarakat yang miskin terhadap perubahan ekonomi. Bila terus berlanjutan, boleh menyebabkan munculnya masalah sosial seperti jenayah (curi, rompak), rogol (pelacuran) dan sebagainya, bahkan mungkin revolusi sosial.

Mekanisme non-ekonomi juga diperlukan kerana adanya sebab-sebab non-alamiah, iaitu adanya penyimpangan mekanisme ekonomi. Penyimpangan mekanisme ekonomi ini jika dibiarkan akan boleh menimbulkan ketimpangan edaran kekayaan. Bila penyimpangan terjadi, negara wajib menghilangkannya. Misalnya jika terjadi monopoli, hambatan masuk, baik administratif maupun non-adminitratif– dan sebagainya, atau kejahatan dalam mekanisme ekonomi (misalnya penimbunan), harus segera dihilangkan oleh negara.

Mekanisme non-ekonomi bertujuan agar di tengah masyarakat segera terwujud keseimbangan (al-tawazun) ekonomi, yang akan ditempuh dengan beberapa cara. Penedaran harta dengan mekanisme non-ekonomi antara lain adalah :

▪   Pemberian harta negara kepada warga negara yang dinilai memerlukan.

▪   Pemberian harta zakat yang dibayarkan oleh muzakki kepada para mustahik.

▪   Pemberian infaq, sedekah, wakaf, hibah dan hadiah dari orang yang mampu kepada yang memerlukan.

▪   Pembagian harta waris kepada ahli waris dan lain-lain.

Demikianlah gambaran sekilas tentang asas-asas sistem ekonomi Islam. Untuk memberikan pemahaman yang lebih luas dan dalam, maka perincian seluruh aspek yang dikemukakan di atas perlu dilakukan.

Perekonomian Islam

Perekonomian Islam ialah ekonomi menurut undang-undang Islam. Adanya dua paradigma untuk memahami Perekonomian Islam, dengan satunya menganggap rangka politik Islam (iaitu Khilafah), dan yang lain itu menganggap rangka politik bukan Islam yang melahirkan suatu paradigma yang bertujuan untuk menyepadukan sesetengah rukun Islam yang terkenal ke dalam sebuah rangka ekonomi sekular.

Paradigma pertama bertujuan untuk mentakrifkan semula masalah ekonomi sebagai suatu masalah pengagihan sumber untuk mencapai:

▪   keperluan-keperluan asas dan mewah para orang perseorangan di dalam masyarakat;

▪   membina pasaran etika yang mempunyai persaingan kerjasama;

▪   memberikan ganjaran kepada penyerta-penyerta kerana terdedah kepada risiko dan/atau liabiliti;

▪   membahagikan harta-harta secara adil antara kegunaan awam dan kegunaan peribadi; dan

▪   negara memainkan peranan yang jelas terhadap pengawasan, percukaian, pengurusan harta awam dan memastikan peredaran kekayaan.

Gerakan-gerakan Islam yang menyeru agar politik dibaharui umumnya akan mencadangkan paradigma ini untuk menjelaskan bagaimana mereka akan memperkenalkan pembaharuan ekonomi. Bagaimanapun, paradigma kedua hanya mencadangkan dua hukum utama, iaitu:

▪   faedah tidak boleh dikenakan pada pinjaman;

▪   pelaburan harus menepati tanggungjawab sosial.

Perbezaan utama dari segi kewangan ialah peraturan tiada faedah kerana paradigma pelaburan Islam yang menepati tanggungjawab sosial tidak amat berbeza dengan apa yang diamalkan oleh agama-agama yang lain. Dalam percubaannya untuk melarang faedah, ahli-ahli ekonomi Islam berharap untuk menghasilkan sebuah masyarakat yang lebih bersifat Islam. Bagaimanapun, gerakan-gerakan liberal dalam agama Islam mungkin akan menafikan keperluan untuk perkara ini kerana mereka umumnya melihat Islam sebagai secocok dengan institusi-institusi dan undang-undang sekular moden.

Ekonomi islam menurut para ahli

1.    Menurut S.M Hasanuzzaman (1984)

Ilmu ekonomi islam adalah pengetahuan dan aplikasi ajaran-ajaran dalam aturan-aturan syariah yang mencegah ketidakadilan dalam encariaan dan pengeluaran sumber-sumber daya, guna memberikan kepuasan bagi manusia dan memeungkinkan mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap Allah dan sesama.

2.    Menurut khursid ahmad

ilmu ekonomi adalah suatu upaya sistematis untuk mencoba memahami permasalahan ekonomi dan prilaku manusia dalam hubungan nya dengan permasalahan dari sudut pandang islam.

3.    Menurut M.A Mannan

ekonomi islam adalah suatu ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari permasalahan ekonomi dari orang-orang yang memiliki nilai-nilai islam.

4.    Menurut M.N Sidiqie

Ekonomi islam adalah respon para pemkir ,uslim terhadap tantangan-tantangan ekonomi zaman mereka. Dalam upaya ini mereka dibantu oleh Al-Quran dan Al-Sunnah maupun akal dan pengalaman.

5.    Menurut M. Akram Khan

Ilmu ekonomi islam berujuan menmpelajari kesejahteraan manusia yang dicapai dengan mengorganisir sumber-sumber daya bumi atas dasar kerjasama dan partisipasi.

6.    Menurut Louis Cantori

Ilmu ekonomi islam tidak lain merupakan upaya untuk merumuskan ilmu ekonomi yang berorientasi manusia dan berorientasi masyarakat yang menolak ekses individualisme dalm ilmu ekonomi klasik.

Ekonomi islam menurut pandangan Barat

Usaha mempopularkan ekonomi Islam nampaknya dipandang serong oleh Barat. Apa pihak mengatakan tujuan ekonomi Islam tidak lain untuk menarik dana keluar dari perbankan konvensional dan masuk ke dana negara-negara Islam. Hal ini ternyata tidak benar kerana tujuan kita hanyalah untuk menyediakan kemudahan perbankan dan kewangan yang selaras dengan kehendak agama kita.

Timur Kuran, seorang professor ekonomi dari Universiti Duke mengatakan bahawa ekonomi Islam bukanlah bermula dari zaman Nabi salallahualaiwasallam. Sebaliknya ia diasaskan oleh “brainchild” seorang intelektual islam, Abul-Ala Mawdudui (1903-79). Matlamatnya pula ialah sebagai mekanisma meminimumkan hubungan ekonomi dengan Barat, menguatkan kerjasama kolektif antara sesama Muslim dan memodenkan dunia Islam tanpa menjadi seperti Barat.

Malah lebih menyedihkan apabila beliau mengatakan bahawa ekonomi Islam yang berasaskan kepada perkongsian untung sebenarnya tidak jauh berbeza dengan sistem riba seperti yang diamalkan oleh Barat. Sistem yang kompleks itu hanyalah bertujuan untuk berselindung disebalik pembayaran riba.

Beliau juga mendakwa sistem zakat sebenarnya tidak membantu mengurangkan kemiskinan. Kononnya apa yang berlaku ialah wang kutipan zakat hanya akan masuk ke poket pegawai agama. Yang lebih menyedihkan ialah beliau menggunakan Malaysia sebagai contoh.

Hujah beliau yang ketiga pula ialah isu moral yang ditekankan dalam islam tidak menghargai kesan kelakuan ekonomi (no appreciable effect on economic behavior). Beliau mengatakan bahawa fahaman ekonomi Islam sama seperti sosialism. “Certain elements of the Islamic economic agenda conflict with human nature.”

Selain itu beliau juga menekankan kegagalan kerajaan Sudan, Pakistan dan Iran dalam usaha mewujudkan sistem ekonomi Islam. Malah beliau mengambil contoh ada beberapa negara di Asia Tenggara menggunakan agenda memperkenalkan ekonomi Islam sebagai cara untuk terus popular dikalangan pengundi mereka.

Ekonomi islam menurut Pandangan Klasik

Hakikatnya ilmuan Islam sudah lama memberi tumpuan kepada masalah ekonomi dalam masyarakat. Ibnu Khaldun misalnya telah menulis sebuah magnum opus tentang ekonomi dan sejarah serta capaian dalam bidang sains sosial yang lain melalui bukunya bertajuk al-Muqaddimah. Abu Yusuf, seorang ketua juri pada zaman Khalifah Harun al-Rashid pula menulis Kitab al-Kharaj (Book of Taxation). Selain itu, terdapat perbincangan tentang manfaat pembahagian sumber tenaga (division of labor) dalam penulisan-penulisan Qabus, al-Ghazali, al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Miskawayah, Nasir al-Din al-Tusi, Asaad Davani dan Ibnu Khaldun sendiri. Ibnu Taymiyyah menggambarkan “jika keinginan terhadap sesuatu barang meningkat sedangkan ia sukar diperolehi, harganya akan meningkat. Sebaliknya jika sesuatu barang itu mudah diperolehi sedangkan ia kurang diinginkan, harganya akan menurun.

Ibnu Khaldun

Oleh yang demikian, beberapa penulisan tentang Ibnu Khaldun mutakhir ini bersetuju memberi gelaran ‘Bapa Ekonomi’ kepada ilmuan Islam tersebut. Dalam artikel ditulis oleh Dr. Ibrahim M. Oweiss yang bertajuk ‘Ibn Khaldun, Father of Economics’ mengatakan “His significant contributions to economics thought as a major forerunner, if not the “father,” of economics, a tittle which has been given to Adam Smith, whose great works were published some three hundred and seventy years after Ibn Khaldun’s death.”

Shiddiqy Boulokia pula dalam tulisannya ‘Ibn Khaldun: A Fourteenth Century Economist’ mengatakan “Ibnu Khaldun discovered a great number of fundamental economics notions a few centuries before their official births. He discovered the virtue and the necessity of a division of labour before Smith and the principle of labour before Ricardo. He elaborated a theory of population before Malthus and insisted on the role of the state before Keyneys.

Pendekatan baru

Berdasarkan kepada pandangan diatas, seharusnya ekonomi Islam diberi pandangan baru yang segar dan lebih kukuh pendiriannya. Pandangan ini perlu agar tidak berlaku kesilapan yang sama sebelum ini selain memastikan ekonomi Islam benar-benar suci selaras dengan kehendak al-Quran dan Hadis.

Fitrah manusia

Dalam mencari defini ekonomi Islam, terlebih dahulu ada baiknya kita bincangkan fitrah kejadian manusia dan tujuan diturunkan ke muka bumi ini. Hal ini penting agar defini yang diberikan kelak mampu menerangkan sebab ilmu ekonomi dan keperluan memberi definisi sedemikian rupa.

Allah subhanahuwataala telah berfirman di dalam al-Quran surah al-Bakarah ayat 30 yang kira-kira bermaksud: “Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi…” Hal ini menjelaskan kepada kita bahawa manusia mempunyai tugas tersendiri di alam ini. Khalifah, atau pemimpin, sudah tentu bukan sekadar sesama manusia tetapi merangkumi dari sudut pentadbiran alam dan segala isinya.

Namun begitu, manusia secara fitrahnya diturunkan bersama dua elemen iaitu akal dan nafsu. Diceritakan bahawa sebelum Allah memasukkan kedua-duanya, Allah telah bertanya kepada akal: “Siapa aku, siapa kamu?” Akal menjawab: “Kamu Raja, aku Hamba”. Soalan yang sama ditanya kepada nafsu yang kemudiannya menjawab: “Kamu ialah kamu. Aku ialah aku.” Allah memerintahkan supaya nafsu dikurung sehinggalah ke neraka lapar barulah ia mengaku bahawa Allah adalah Tuhan dan dirinya ialah hamba.

Satu lagi perkara yang perlu diambil kira dalam fitrah kejadian manusia ialah manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah semata-mata. Surah az-Zariyat ayat 56 menjelaskan hal ini yang berbunyi: “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka beribadah kepadaku.” Ini sepatutnya menjadi peringatan kepada semua manusia supaya kita sedar tentang sebab kewujudan (reason for existence) di muka bumi ini.

Pendekatan Islam terhadap ilmu

Selain itu, kita harus juga mengambil pendekatan Islam terhadap ilmu pengetahuan. Disiplin ilmu Islam amat mementingkan sumber ilmu, bukan sekadar mengutip pendapat mana-mana orang yang sembarangan. Setiap sumbernya dicatat dan dipastikan kesahihannya. Hal inilah yang dilakukan dalam proses meriwayat sesuatu hadis yang amat mementingkan kesahihan hadis tersebut.

Ilmu adalah cahaya yang datang dari Allah kepada umat manusia. Ia digunakan untuk urusan memenuhi perintah Allah dalam mentadbir bumi sebagai khalifah di muka bumi ini. Justeru itu sumbernya juga mestilah kukuh dan suci.

Pandangan akal manusia yang cetek tidak seharusnya diambil begitu sahaja. Seharusnya ia ditapis dan dikaji terlebih dahulu dengan al-Quran dan Hadis supaya tidak menyimpang daripada ajaran Islam. Hari ini kita juga perlu mengambil kira pandangan alim ulama kerana seperti ditegaskan oleh Imam al-Ghazali di dalam kitabnya yang terkenal, Ihya’ Ulumuddin, Rasulullahualaiwasallam bersabda: “Para ulama adalah pewaris para nabi”.

Matlamat ekonomi

Di dalam surah al-Bakarah ayat 29 yang kira-kira bermaksud: “Dialah yang menciptakan untukmu apa-apa yang ada di muka bumi…’ Allah telah berfirman menunjukkan kepada manusia bahawa segala apa yang ada di muka bumi ini adalah untuk kegunaan manusia seadanya. Segala tumbuhan, haiwan, air serta berbagai kejadian alam semuanya untuk memenuhi keperluan manusia.

Untuk yang demikian, satu bidang ilmu dan kajian perlu dibangunkan untuk membolehkan manusia menggunakan semua sumber untuk dimanfaatkan bersama-sama. Syariah Islam telah menjadikan kemaslahatan umat manusia sebagai prioriti utama. Dalam hal ini, Imam al-Ghazali telah merincikan lima aspek kehidupan yang menjadi asas kepada maslahah umat iaitu: (i) terpeliharanya agama, (ii) terpeliharanya jiwa, (iii) terpeliharanya akal, (iv) terpeliharanya keturunan dan (v) terpelihara harta.Ilmu ekonomi atau iqtishasdy perlu menggunakan kelima-lima tujuan tersebut. Dengan yang demikian barulah kita akan memenuhi fitrah manusia yang disebutkan diatas.

Perkara ketiga yang perlu dititik beratkan ialah soal halatuju pembangunan ekonomi. Islam mementingkan aspek keadilan dalam segala urusan. Apa yang penting ialah semua manusia (tanpa mengira agama) dapat memenuhi keperluan asas mereka supaya kemaslahatan terjaga. Kita selama ini dianjurkan untuk bersedekah kerana sesungguhnya menjaga jiwa itu lebih utama daripada menjaga harta contohnya bersedekah kepada orang miskin supaya mereka dapat membeli makanan.

Selain itu, Islam menekankan supaya umatnya mampu berdikari dan tidak meminta-minta dengan orang lain. Rasulullah salallahualaiwasallam pernah bersabda yang lebih kurang berbunyi “lebih baik bagi seorang lelaki itu mengambil tali, memotong kayu, menghimpunkannya lalu menjual di pasar untuk mendapatkan rezeki bagi dirinya dan bersedekah daripada meminta-minta samada mereka memberinya ataupun tidak.”

Ringkasnya matlamat ekonomi seharusnya merangkumi aspek berikut:

1. Menggunakan segala sumber yang ada di muka bumi.

2. Memanfaatkan sumber untuk kemaslahatan umat manusia.

3. Membangunkan sumber tersebut supaya mencapai tahap sara diri serta mempu mengeluarkan zakat dan sedekah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s